Malang

Malang merupakan kota terbesar kedua di propinsi Jawa Timur. Lambang kota Malang tertulis di sebuah sesanti yang berbunyi MALANG KUCECWARA yang berarti "Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik". Sesanti itu disyahkan dan menjadi semboyan Kota Malang pada tanggal 1 April 1914. Semboyan ini erat kaitannya dengan asal mula Kota Malang yang pada masa Ken Arok menjadi raja pada abad ke 8 Masehi. Malang dan Singosari merupakan pusat kegiatan politik dan budaya pada tahun 760-1414, hal itu berdasarkan penemuan tulisan batu di Dinoyo.

Lebih jauh diungkapkan dari beberapa keturunan, ada yang terpisah dalam arti tidak ada hubungan antara satu keturunan dengan lainnya. Seperti misalnya keturunan Dewasimba, Gajayana di Dinoyo dengan keturunan Balitung. Daksa, Tulodog dan Sindhok. Keturunan terakhir adalah Dharmawangsa, Airlangga kemudian Kertajaya (1215-1222). Kemudian timbulnya dinasti Ken Arok, merupakan estafet pertama para raja Majapahit hingga raja terakhir Tumapel (1447-1451). Pada saat Ken Arok berkuasa, Tumapel hanyalah merupakan kabupaten di daerah Jenggala, pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Kertajaya di Kediri. Batara Malangkucecwara disebutkan dalam piagam tahun 908 di Singosari.

Piagam tahun 908 itu menjelaskan bahwa orang yang mendapat piagam tersebut adalah para pemuja Batara di Malang, Putecwara Kutusan, Cilebhedecwara dan Tulecwara. Penyebutan nama seperti Batara di Malangkucecwara, putecwara membuktikan bahwa nama nama tersebut adalah para raja yang pernah memerintah dan di makamkan di dalam candi dan disebut sang Batara.