Agenda Tahunan

Upacara Grebeg Syawal

grebeg-syawal-t.jpg

Setiap hari raya Idul Fitri, tardisi upacara Grebeg Syawal selalu dirayakan oleh pihak Kraton Jogja. Upacara Garebek Syawal pertama kali dilaksanakan pada tahun 1613 oleh Sultan Agung dan kemudian disesuaikan dengan ajaran agama Islam. Hal ini menjadikan salah satu agenda acara pada hari besar agama Islam. Upacara Grebeg syawal dimaknakan sebagai rasa syukur setelah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan dan menyambut hari raya Idul Fitri.

Perayaan upacara Grebeg Syawal dimulai jam 8 pagi, dengan diiringi acara arak-arakan gunungan oleh para prajurit Kraton dari Kemandungan menuju ke Alun alun Utara Kraton Yogyakarta. Upacara arak arakan akan tiba di Alun-alun Utara pada jam 10.00. Peringatan upacara Grebeg Syawal melibatkan sekitar 600 prajurit Kraton yang ikut bergabung dalam acara ritual tersebut. Para prajurit dibagi dalam beberapa kelompok, seperti: Prajurit Mantrijero, Daeng, Patangpuluh, Wirobrojo, Prawirotomo, Jogokaryo, Ketanggung, serta prajurit Nyutro. Semua prajurit berbaris membentuk formasi sebuah pagar betis guna menyambut gunungan yang diarak oleh para abdi dalem Kraton. Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso mengiringi arak arakan upacara grebeg ini dengan kuda yang dimulai dari Kraton Yogyakarta.

 

Upacara Grebeg Besar

grebeg-besar-t.jpg

Upacara Grebeg Maulud diadakan oleh Kasultanan Yogyakarta, merupakan suatu kegiatan ritual tak akan pernah dilewatkan untuk dikunjungi oleh masyarakat sekitar. Apalagi waktu acara gunungan, hal ini selalu dinantikan oleh semua pengunjung yang hadir. Antusias masyarakat untuk mendapatkan bagian dari gunungan yang berisi hasil bumi sangatlah besar, mereka rela berdesakan bahkan berebutan untuk mendapatkan sesajen tersebut yang dipercaya dapat membawa berkah. Acara ritual yang demikian ini disebut sebagai ngalap berkah.

Gunungan berasal kata gunung, sebuah sesajen yang diusung oleh para prajurit Kraton Yogyakarta yang berbentu menyerupai sebuah gunung. Terdapat 6 jenis Gunungan yang dilaksanakan oleh pihak Kraton Yogyakarta yaitu Gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Pawuhan, Dharat, serta gunungan Kutug atau Bromo. Enam macam Gunungan tersebut hanya saja disajikan pada waktu upacara Grebeg dan Gunungan Kutug hanya dibuat setiap 8 tahun sekali.

 

Upacara Sekaten

sekaten-t.jpg

Setiap hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 bulan Maulud atau bulan ketiga tahun Jawa, selalu diperingati oleh pihak Kraton Yogyakarta dengan mengadakan upacara Grebeg Maulud, tetapi sebelum memperingatai hari besar tersebut, terdapat upacara kecil yang akan dilakukan sebelumnya. Upacara yang diselenggarakan pada tgl 5 - 12 bulan Maulud ini dinamakan Sekaten. Kata Sekaten berasal dari kata ‘Syahadatain’ ini merupakan ajang untuk mengumpulkan masyarakat sebagai upaya untuk menyebarkan agama Islam. Saat ini, selalu diadakan pasar malam selama 7 hari setelah selesai diadakan upacara Sekaten.

 

Upacara Grebeg Mulud

grebeg-mulud-t.jpg

Upacara"Bedhol Songsong" oleh masyarakat Yogyakarta ini merupakan upacara puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara tersebut diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 12 Maulud. Seperangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu dibawa masuk kembali ke Kraton Yogyakarta dan disimpan di bangsal Sri Manganti.

Upacara Grebeg Maulud dimulai dengan kirab oleh prajurit Kraton Yogyakarta dengan memakai seragam kebesaran. Sedangkan puncak acaranya adalah iringan gunungan yang dibawa menuju masjid Agung dan diadakan doa serta upacara persembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Upacara Labuhan

labuhan-t.jpg

Upacara Labuhan di pantai selatan ini dianggap sangat penting bagi pihak Kraton Yogyakarta dan masyarakat sekitarnya. Berbagai persembahan akan dilabuh dan diperuntukan kepada Kanjeng Ratu Kidul, sang penguasa pantai selatan. Upacara ritual dilakukan di pantai Parangkusumo dan bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa demi mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan hidup.

Sejarahnya, Kanjeng Ratu Kidul mempunyai hubungan dekat dengan para Raja Mataram Islam Yogyakarta, hal ini memperkuat legitimasi para Sultan di Kraton Yogyakarta. Kanjeng Ratu Kidul telah berjanji untuk selalu melindungi Panembahan Senopati yang merupakan asal-usul kerajaan Mataram Islam dan seluruh keturunannya apabila menemui masalah.

Menurut kepercayaan, Kanjeng Ratu Kidul memiliki seorang patih yang sangat setia dan kuat, bernama Nyai Roro Kidul. Oleh sebab itu, selalu disediakan 2 persembahan, untuk Kanjeng Ratu Kidul bernama Pengajeng dan untuk Nyai Roro Kidul bernama Penderek.

 

Tanggap Warsa Suro

tanggap-warso-t.jpg

Bulan Suro bagi warga Samas, Bantul, Yogyakarta memang merupakan bulan yang dianggap sakral atau suci. Selain ritual kirab Tumuruning Maheso Suro, sejak beberapa tahun lalu para nelayan di pantai Samas menggelar prosesi Labuhan Pisungsung Jalanidhi. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu diberi keselamatan selama melaut. Upacara ini dilaksanakan bertepatan dengan hari Minggu Pon pada Bulan Suro setiap tahunnya.

Prosesi upacara diawali dengan menyembelih seekor kerbau. Kemudian kepala kerbau atau Mustaka Mahesa beserta ubo rampe diarak menuju pantai Samas. Iring iringan upacara kirab tersebut menempuh jarak sekitar 3 kilometer dan diikuti warga sekitar dengan berpakaian tradisional dari berbagai elemen dari pedesaan Srigading. Masyarakat yang menonton kirab menyambut dengan antusias dan upacara tersebut menjadikan hiburan tersendiri.

Setibanya di pesisir pantai, beberapa sesepuh atau yang dituakan memanjatkan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian berbagai sesaji yang diangkut didalam kapal nelayan akan dilarung ke laut selatan.

 

Upacara Ngarak Siwur

pitcher-filling-t.jpg

Masyarakat di kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, memiliki agenda wisata budaya menarik yang digelar setiap tahun yakni Kirab Budaya “Ngarak Siwur”. Yaitu  upacara mengarak dua buah siwur atau gayung air yang digunakan untuk ritual “Nguras Kong/Enceh” di kompleks Makam Raja Mataram Imogiri. Dalam penanggalan Jawa, upacara tradisional kirab budaya Ngarak Siwur ini setiap tahunnya digelar bertepatan pada hari Kamis Wage bulan Suro.

 

Upacara Saparan

saparan-t.jpg

Upacara kirab budaya Saparan Bekakak di Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta ini selalu dipadati oleh berbagai kalangan masyarakat di sepanjang rute kirab. Masyarakat menyaksikan arak-arakan yang menampilkan berbagai kesenian tradisional. Saparan Bekakak merupakan tradisi yang digelar setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan hari Jumat. Tradisi tersebut untuk menghormati Ki Wirasuta, seorang abdi dalem penongsong Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Prosesi arak arakan sepasang boneka pengantin Bekakak diawali dari Lapangan Ambarketawang melewati Jalan Wates dan berakhir di desa Gamping. Kemudian sepasang boneka Bekakak disembelih dan darah yang terbuat dari gula kelapa yang mengucur. Sementara, berbagai ubo rampe berupa hasil bumi dan makanan yang dimuat diatas Gunungan dan Jodhang dibagikan kepada para pengunjung.